Suatu hari dikala mentari sedang mengintip di balik awan, terlihat sari sendirian di gubuk tua yang mulai rapuh. Dia merenungi nasibnya yang tidak seberuntung teman-temanya. Impianya telah sirna karena keadaan yang memaksanya untuk bekerja mencari nafkah.
Di balik rambutnya yang terurai terpendam suatu keinginan untuk dapat meneruskan pendidikan yang sudah lama ia tinggalkan.
“mengapa aku begini, aku hanya ingin bersekolah, apa itu salah!” dalam hati ia berkata. Air mata yang semula terbendung akhirnya tumpah karena ia tidak dapat menahanya. Detikpun terus berjalan dan sorepun menjelang, sari berjalan menuju rumahnya yang berada di belakang gubuk tua itu.
Sari adalah anak dari seorang sopir truk, dia anak pertama dari dua bersaudara. Rini adiknya telah lulus SMP dan sekarang Rini duduk di kelas 1 SMA. Sari terkenal akan sifatnya yang periang akan tetapi Semenjak ibunya meninggal dia menjadi suka menyendiri. Bapaknya Sari yang selama ini menjadi tulang punggung keluarga telah berubah dia lebih suka pulang terlarut malam. Hal ini menyebabkan hati sari cemas terlebih-lebih terdengar berita bahwa bapaknya mau menikah lagi dengan seorang janda yang ternyata janda itu adalah mantan istri bapaknya. Hal ini semakin membuat hatinya menjadi tambah kacau dan cemas. Tepat pukul sebelas malam bapaknya pulang, “ adik sudah tidur ri?”tanya bapaknya. “belum pak, rini lagi dengerin radio di kamar.” Jawab sari sambil tersenyum dengan bapaknya yang terlihat letih itu. “ tolong adikmu suruh duduk disini, bapak mau ngobrol sama kalian berdua” sambung bapaknya “baik pak.” Jawabnya sambil berdiri menuju kamar adiknya. Setelah rini dan sari datang, merekapun mulai mengobrol.
“Ada apa pak?” sahut Rini
“bapak mau bicara sama kalian berdua?”
“soal apa pak?” sambung rini sambil duduk di samping bapaknya
“bapak ingin memberitahu, bahwa bapak ingin menikah lagi karena tidak selamanya bapak bisa hidup seperti ini, bapak gak kuat bila hidup tanpa pendamping.” kata bapaknya
“apa… tapikan masih ada kami, anak bapak! Apa bapak gak suka sama kami?” potong Rini dengan nada kecewa. bapaknyapun terdiam membisu melihat wajah anak-anaknya.
“kenapa diam pak?, Jawab pak!!!!” sambung rini dengan nada agak memaksa.
“ bukanya begitu, bapak sebagai orang tua tunggal memiliki kewajiban mengurus dan menafkahi kalian, bapak gak bisa kalau harus memikul tanggung jawab ini sendirian.” Jelas bapaknya
Merekapun terdiam dan suasana malam yang dingin itu semakin mencekam takkala bapaknya mengatakan bahwa ia akan menikah minggu depan. Hal ini semakin membuat hati sari dan rini kecewa, di dalam hati keduanya berkata “mengapa seorang bapak yang selama ini di sayanginya harus menikah dengan seorang wanita yang sebenarnya wanita itu pernah menyakiti hatinya dan secepat ini pula? Entahlah…!!!”.
“ya Sudahlah!, kalau itu memang yang terbaik dan bisa buat bapak bahagia, kami setuju saja.” Sambung sari dengan berat hati.
Dipagi-pagi buta, sari kedatangan tamu. Karena di saat itu terlalu pagi ayah dan saudaranya belum terbangun saripun yang harus membuka pintu. Ketika sampai didekat pintu ia membuka korden yang ada pada jendela dekat pintu itu, dilihatnya seorang wanita berjilbab coklat, tubuhnya gendut tetapi pendek, setelah beberapa detik ia mengamatinya dibukakanlah pintu itu. Ternyata wanita itu mencari bapaknya sari, wanita itupun di persilahkan duduk oleh sari dan sesegera mungkin sari berjalan menuju kamar bapaknya yang tidak terlalu jauh dengan ruang tamu sesampai didepan kamar bapaknya, saripun mengetok pintu berulang kali sambil memanggil bapaknya . Bapaknya saripun keluar dengan rambut yang acak-acakan. “ pak , ada yang nyari tu!” sari berkata.” Siapa?” tanya bapaknya “ tau….!!!!, orangnya perempuan dan berjilbab tapi agak pendek.” Jawab Sari agak mengejek wanita itu.
“ siapa sich?” kata bapaknya sambil berjalan menuju ruang tamu. “eeeeehhhh………, tunggu dulu, bapak harus cuci muka, masak mau terima tamu mukanya kayak gitu” sambung sari sambil menyeret baju bapaknya.”oh iya ya…..” kata bapaknya.
Setelah selesai cuci muka bapaknyapun keluar menuju ruang tamu, setelah menemui tamu itu bapaknya pun memanggil sari. “ sar…sar… sini nak, bapak mau memperkenalkanmu kepada seseorang!” jerit bapaknya. Seketika sari yang mau nglanjutin tidurnya terbangun dan berkata “ apalagi sich akukan ngantuk mau tidur” katanya dengan pelan-pelan, saripun berjalan menuju bapaknya. “ ada apa, pak” tanya sari “ bapak mau ngenalin kamu sama seseorang, oh iya adikmu mana?” tanya bapaknya. “ada tuh lagi tidur di kamar” jawab sari. “ bangunin sana, bilangin di panggil bapak !,”kata bapaknya “ya pak” kata sari sambil berjalan, ketika sampai di depan kamar adikya, didalam hatinya ia bertanya-tanya “siapa wanita itu ya, kok kayaknya sudah kenal akrab sama bapaknya”. “ rin..rin… bangun, dipanggil bapak tu!, rin..rin… cepetan bangun !!!!” jerit sari sambil mengetok kamar rini. “ iya ya….. ada apa sich mbak?” sahut rini sambil membuka pintu kamar tidurnya.
“ di panggil sama bapak tu! Katanya kita mau dikenalin sama seseorang. Sana kamu duluan, bilangin bapak, aku mau buat minuman dulu.” Kata sari
“iya….iya…!” jawab rini dengan ketus.
Rinipun berjalan menuju ruang tamu. “ Ada apa pak?” tanya rini sambil melihat wanita yang duduk di kursi pojok “ sini duduk di sebelah bapak, bapak mau ngomong. mbakmu mana?” tanya bapaknya “ mbak lagi di belakang sedang buat minuman.” Sahut rini.
Setelah sari datang dengan membawa dua cangkir teh yang masih hangat, bapaknyapun memperkenalkan seorang wanita kepada sari dan rini. Bapaknya menjelaskan bahwa wanita itu adalah calon istri dan calon ibu bagi mereka. Sari terkejut karena ia tidak menyangka wanita yang akan menjadi istri bapaknya secepat ini datang kerumahnya. Setelah mereka diperkenalkan merekapun berbincang-bincang. Waktupun terus berjalan dan mentari mulai menampakkan sinarnya. sari sesegera mungkin beranjak dari ruang tamu, Karena dia belum mempersiapkan sarapan. Sedangkan rini adik sari mulai beranjak mandi.
Rinipun sibuk mempersiapkan peralatan yang akan di bawa sekolah. Setelah selesai memasak Sari bersih-bersih di belakang. Semenjak ibunya meninggal sari memang mengantikan peranya.
Hari demi hari mereka lalui dan Hari pernikahanpun tiba, sekarang wanita itu telah sah menjadi bagian keluarga sari.
Kini sari melalui hari-hari itu dengan kehadiran seorang ibu walaupun hanya ibu tiri. Di dalam hatinya dia merasa ada sesuatu yang mengganjal. Memang Semenjak pernikahan itu bapaknya telah banyak berubah, bapaknya selalu marah-marah dengan mereka dan selalu membela wanita itu dari pada anak kandungnya.
Suatu ketika di pagi yang dingin sari pergi ke ladang untuk membantu kakeknya menanam singkong, selama ini memang sari selalu membantu kakeknya di ladang dan setiap sore dia bekerja di pabrik roti. setelah sari selesai membantu kakeknya dia beristirahat di gubuk yang berada di dekat ladang kakeknya, di hadapanya terhampar luas padi yang menguning dan tumbuhan pisang yang melambai tertiup angin yang seakan-akan mengajak sari untuk menikmati sejuknya pagi itu. Saripun pulang dengan membawa lelah yang menumpuk di badanya. Sesampainya dirumah sari terkejut karena di depan rumahnya sudah berdiri bapaknya dengan wajah yang kesal.
“ dari mana kamu?” tegas bapaknya
“ saya dari ladang membantu kakek menanam singkong, emangnya ada apa pak? kok marah-marah gitu!” jawab sari dengan muka yang kebingungan, dia tidak menyangka bapaknya begitu marah denganya dia tidak tau apa yang menyebabkan bapaknya marah . “ kamu itu pagi-pagi sudah kelayapan gak jelas, pagi ini tu gak ada yang buat sarapan!!!!!!” sari tambah bingung karena hanya permasalahan seperti itu saja bapaknya marah-marah padahal dulu bapaknya tidak terlalu mempersoalkan hal seperti ini.
“ tapikan masih ada ibu yang di rumah?” tegas sari.
“ halah kamu itu ya… bisanya Cuma alasan terus, ibumu itu sedang tidur !!!!!!” tegas bapak Sari dengan muka yang sangat marah. Sari terdiam sambil meneteskan air mata karena baru kali ini bapaknya marah sebesar ini kepadanya. Saripun masuk ke kamar dan mengambil handuk untuk mandi, setelah mandi dia pun bergegas memasak.
Mataharipun telah bergeser ke arah barat hal ini bartanda bagi sari untuk berangkat kerja di pabrik roti, pabrik ini hanya berjarak 2 kilometer. Dia menunggu mobil jemputan yang sering datang tepat pukul empat. Sesampainya di pabrik roti itu saripun langsung bekerja, dia masih sedih bila teringat kejadian tadi pagi kesedihannya pun bertambah setelah sampai di pabrik roti, karena sari merasa terkucilkan dia selalu menjadi bahan omongan teman kerjanya, tetapi untungnya dia mempunyai sahabat yang selalu menemaninya namanya adalah tini, dia adalah anak seorang petani yang keadaanya tidak begitu jauh dengan sari tetapi tini masih bisa meneruskan sekolah. Tepat pukul sebelas malam sari pulang bersama sahabatnya.
Keesokan harinya di kala mentari bersinar dengan teriknya sari sedang duduk di bawah pohon beringin. Dia sangat sedih karena bapaknya telah banyak berubah. Ketika itu pula tini menghampiri sahabatnya itu. “ sar….sari lagi ngapain kamu? Kok melamun aja, sendirian lagi! ntar kalau kesambet gimana?” ejek sari untuk menghibur sahabatnya yang terlihat sedih itu “ eh kamu tin, iya nich…. aku lagi sedih. oh iya kamu dari mana tin?” tanya sari. “ aku habis dari warung nich…. Disuruh bapak suruh beli gula, oh iya aku boleh mampir duduk situ gak?” kata tini sambil menunjuk tanah lapang yang ada didekat sari.” Ya boleh lah…!!! Siapa juga yang melarang, tapi ntar kalau kesambet aku gak tanggung lo….”. kata sari sambil membalas ejekan sahabatnya itu. “ iya…iya pokoknya shiiiip dech…, emang kamu ada masalah apa sich…! kok sampai membuat kamu sedih kayak gini?” Tanya Tini sambil berjalan menuju ke arah sari. Disaat itu Sari mulai bercerita tentang permasalahan yang sedang dialaminya kepada tini. Setelah Sari selesai bercerita tentang permasalahanya tini bergegas pulang “ eh sar aku pulang dulu ya…!!! aku takut di cari bapakku, soalnyakan gulanyakan masih aku bawa ntar kalau dimarahin gimana???.” Kata Tini “ iya sudah dech… makasih ya sudah dengerin curhatku, lain kali kamu dengerin curhatku lagi ya!.” Sahut Sari “ iya, pokoknya ship dech… udah ya, daaaaa…..!!!! Kata Tini sambil melambaikan tangannya.
Siangpun telah berganti sore dan seperti biasa sari mulai mempersiapkan diri untuk berangkat bekerja. Hari ini adalah hari dimana sari mendapatkan upah. Sesudah mendapatkan upah atas kerja kerasnya selama ini saripun pulang dengan hati yang gembira, walaupun sebenarnya upah yang didapatkanya tidak begitu besar dan tidak bisa untuk memenuhi kebutuhanya sehari-hari. Sesampainya di rumah sari disambut oleh bapaknya yang telah berdiri di depan pintu dengan wajah yang cerah dia tidak menyangka bapaknya akan seperti ini, padahal semenjak menikah dengan ibu tirinya dia tidak pernah menampakkan wajah yang cerah kepada sari, dia selalu menghiraukan Sari tak pernah memperhatikanya dan selalu menampakkan wajah yang marah. Saripun mendekati bapaknya itu “ ada apa pak? Kok kayaknya lagi senang?” Tanya sari sambil terheran-heran “udah…. gak usah banyak omong kamu, sekarang mana uangnya?” jawab bapaknya sari dengan sedikit membentak dan maksa “ uang apa pak?” jawab sari “ ya uang upah kerja kamulah?” bentak bapaknya. Sari tambah heran dengan sifat bapaknya yang mudah berubah dan dia tidak menyangka bapaknya tahu kalau hari ini dia mendapatkan upah. Saripun terpaksa berbohong dengan bapaknya, dia tidak mau memberikan uang hasil jerih payahnya selama ini kepada bapaknya dengan begitu saja, karena dia tahu pasti uang itu akan dihabiskan hanya untuk bersenang-senang dengan istri barunya tanpa memperdulikan nasib anak-anaknya. Karena dia tetap tidak mau memberikan uangnya, bapaknyapun marah besar dan saripun diusir dari rumah, sari sadar perbuatanya ini sangat beresiko tetapi dia tetap melakukanya untuk kepentingan adiknya dan sari di kemudian hari. Saripun pergi dari rumah, sekarang dia telah tinggal dengan pamanya. Dia tahu bahwa tinggal bersama pamanya bukanlah pilihan yang benar karena keadaan ekonomi keluarga pamanya tidak begitu jauh dengan keluarganya. Tetapi mau tidak mau dia harus tinggal bersama pamanya itu.
Kini sari telah berpisah dengan sahabatnya dan rini adiknya. Pernah terdengar berita bahwa adiknya tidak meneruskan sekolah lagi karena ekonomi yang kurang dan terdengar pula bahwa bapaknya dan ibu tirinya selalu bersenang-senang tanpa menghiraukan adiknya. Hal ini menyebabkan sari kawatir dan cemas kepada adiknya tetapi dia tetap menjalani hidup yang keras ini dengan semangat yang besar. Dia mempunyai tekat yang kuat dia ingin menghidupi adiknya yang pada saat itu masih tinggal dengan bapaknya. Dia tahu bahwa sebenarnya adiknya itu merasakan hal yang sama dengan dirinya. Setelah beberapa bulan dia tinggal dengan pamanya sari merantau ke kota dan membuka usaha dari hasil upahnya selama bekerja di pabrik roti.
Waktupun terus berjalan sari kini berubah menjadi gadis yang mandiri dan sukses. Karena kesuksesannya ini dia dapat menghidupi dan dapat menyekolahkan adiknya itu. Sedangkan kini bapaknya telah tinggal dengan ibu tirinya di tempat lain. Semenjak kejadian itu sari memang tidak pernah berhubungan dengan bapaknya.